Dari Sifu ke Sepak Bola Taruhan Berisiko Sloclap Lewat Rematch Mulai Diuji Waktu
Ketika Sloclap memperkenalkan Rematch, studio ini langsung mematahkan ekspektasi publik. Setelah membangun reputasi lewat Absolver dan Sifu, Sloclap secara sadar meninggalkan genre bela diri dan memilih mengembangkan game sepak bola kompetitif berbasis tim. Keputusan ini terdengar berani sekaligus berisiko, terutama karena Sloclap belum pernah menyentuh genre olahraga sebelumnya.
Meski demikian, langkah tersebut langsung menunjukkan hasil. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Rematch berhasil menarik sekitar lima juta pemain, sekaligus menempatkan Sloclap sebagai salah satu studio dengan peluncuran game paling mencolok di tahun 2025.
Popularitas Melejit, Tekanan Pengembangan Ikut Meningkat
Seiring lonjakan pemain, tantangan teknis dan desain ikut meningkat. Dalam wawancara bersama GamesRadar, CEO Sloclap Pierre Tarno menjelaskan bahwa Rematch menjadi proyek paling menuntut sepanjang sejarah studio.
Tarno menegaskan bahwa untuk pertama kalinya Sloclap harus mengelola game multiplayer kompetitif dengan pendekatan live-service. Walaupun Absolver sempat menghadirkan mode PvP, pengalaman tersebut belum cukup membekali tim menghadapi kompleksitas game sepak bola yang sangat bergantung pada keseimbangan mekanik.
Perubahan Kecil Picu Dampak Besar
Dalam Rematch, Sloclap tidak bisa melakukan penyesuaian secara sembarangan. Tarno menjelaskan bahwa perubahan kecil pada fisika bola atau sistem pergerakan langsung memengaruhi keseluruhan pengalaman bermain.
Selain itu, karena Rematch mengandalkan posisi, momentum, dan timing presisi, setiap perubahan cepat terasa oleh pemain. Akibatnya, komunitas segera bereaksi dan menyampaikan kritik secara terbuka.
Tarno menilai komunitas Rematch sangat teliti dan vokal. Pemain kompetitif, khususnya, secara aktif menyoroti berbagai detail teknis, mulai dari respons movement hingga tinggi bola saat voli yang memengaruhi permainan level atas.
Absennya Crossplay Jadi Titik Lemah Awal
Selain isu gameplay, Sloclap juga harus menghadapi kesalahan strategis di fase peluncuran. Studio ini merilis Rematch tanpa fitur crossplay, meskipun mereka telah merencanakannya sejak awal pengembangan.
Sloclap keliru membaca ekspektasi pasar. Saat ini, pemain menganggap crossplay sebagai standar dasar, bukan fitur tambahan. Oleh karena itu, ketika Rematch hadir tanpa dukungan lintas platform, kritik dari komunitas langsung mengalir deras.
Sloclap akhirnya menghadirkan crossplay lebih dari dua bulan setelah rilis. Namun, bagi pemain, jeda waktu tersebut terasa terlalu lama. Tarno secara terbuka mengakui bahwa keterlambatan ini menjadi salah satu kesalahan terbesar timnya.
Rematch Berubah dari Proyek Sementara ke Komitmen Jangka Panjang
Awalnya, Sloclap merancang Rematch sebagai proyek dengan siklus hidup terbatas. Studio ini hanya menyiapkan dukungan pasca-rilis selama 12 hingga 18 bulan.
Namun, seiring berkembangnya meta dan meningkatnya kemampuan pemain, Sloclap mulai meninjau ulang arah pengembangan. Studio ini kini memprioritaskan kebutuhan nyata komunitas dan stabilitas ekosistem kompetitif, alih-alih sekadar mengikuti roadmap awal.
Season 2 Menjadi Momen Penentuan
Pada 17 Desember, Sloclap meluncurkan Season 2 Rematch dan berharap pembaruan ini mampu menghidupkan kembali antusiasme pemain.
Harapan tersebut muncul di tengah tren yang mengkhawatirkan. Setelah mencatat lebih dari 90.000 pemain aktif bersamaan saat rilis, Rematch mengalami penurunan jumlah pemain secara signifikan. Bahkan nominasi Best Sports/Racing Game di The Game Awards belum sepenuhnya mengubah sentimen komunitas.
Rematch Masih Menyimpan Potensi Besar
Meski menghadapi berbagai kendala, Rematch tetap berdiri di atas fondasi yang kuat. Sloclap merancang sistem gameplay yang solid dan kompetitif, sekaligus membangun identitas yang berbeda dari game sepak bola tradisional.
Kini, keberhasilan Rematch bergantung pada konsistensi Sloclap dalam mendengar pemain, merespons kritik secara cepat, dan mengambil keputusan desain yang tepat. Jika studio ini mampu menjaga arah pengembangan, Rematch masih memiliki peluang besar untuk berkembang dari eksperimen berisiko menjadi salah satu game olahraga kompetitif paling berpengaruh di masanya.