Inazuma Eleven Victory Road — Bangkit Setelah 10 Tahun, Apakah Sepadan dengan Penantian
Setelah hampir satu dekade terombang-ambing dalam development hell, Inazuma Eleven: Victory Road akhirnya hadir ke publik. Bagi penggemar lama yang tumbuh bersama animenya, sekaligus generasi yang pernah kecanduan seri Strikers, perilisan ini langsung terasa krusial. Level-5 kini memikul satu tanggung jawab besar: membuktikan bahwa Inazuma Eleven masih relevan di era game modern.
Untuk menjawabnya, kami menghabiskan hampir 100 jam bermain dan mengeksplorasi seluruh mode yang tersedia. Hasilnya menunjukkan satu hal penting: Victory Road tampil ambisius dan sarat fan service, tetapi juga membawa sejumlah kompromi yang sulit diabaikan.
Story Mode: Ambisi Sinematik yang Terbebani Konten
Sebagai etalase utama, Story Mode mencoba menyajikan pengalaman paling sinematik. Mode ini mengambil latar 25 tahun setelah kejadian di game pertama dan menempatkan pemain sebagai Unmei Sasanami, seorang siswa yang bertekad membangkitkan kembali klub sepak bola sekolahnya.
Berbeda dari pendekatan klasik seri sebelumnya, Victory Road mendorong Story Mode ke arah RPG modern. Pemain secara aktif menjelajahi area, menghadapi pertarungan turn-based, menyelesaikan side quest, mengumpulkan informasi, serta mengikuti berbagai minigame yang menentukan progres cerita. Pendekatan ini jelas mengingatkan pada struktur Fire Emblem modern.
Namun seiring berjalannya waktu, ambisi besar ini justru menghadirkan masalah yang konsisten.
Aktivitas Melimpah, Dampak Minim
Masalah utama Story Mode terletak pada ketimpangan antara jumlah aktivitas dan dampaknya. Game menghadirkan banyak side quest dan minigame, tetapi sebagian besar tidak memberikan pengaruh nyata terhadap cerita maupun perkembangan karakter.
Di satu sisi, presentasi visual tampil kuat. Cutscene animasi garapan Studio MAPPA secara konsisten menghadirkan emosi khas Inazuma Eleven. Di sisi lain, momen-momen penting tersebut kerap terputus oleh aktivitas repetitif yang terasa dipaksakan dan memperlambat ritme cerita.
Selain itu, Victory Road juga gagal memaksimalkan karakter pendukungnya. Walaupun desain dan kepribadian mereka menarik, game jarang memberi ruang eksplorasi lebih dalam. Absennya misi karakter khusus membuat hubungan antara pemain dan tim terasa dangkal.
Minigame: Potensi Besar yang Tidak Berlanjut
Salah satu contoh potensi yang sebenarnya kuat muncul lewat minigame rhythm saat merekrut Raika Shinohara di awal permainan. Pada momen ini, animasi dinamis dan presentasi visual membuktikan bahwa Victory Road mampu tampil kreatif di luar pertandingan.
Sayangnya, game jarang mengulang pendekatan serupa. Andai Level-5 mengemas minigame sebagai rangkaian quest tematik berbasis karakter, Story Mode bisa tampil jauh lebih hidup dan berkesan.
Chronicle Mode: Fondasi Terkuat Victory Road
Ketika Story Mode terasa timpang, Chronicle Mode justru tampil sebagai fondasi utama pengalaman bermain. Di sinilah Victory Road benar-benar menunjukkan identitas terbaiknya.
Melalui Competition Route, pemain secara aktif mengulang sejarah franchise lewat pertandingan-pertandingan ikonik yang tersusun di peta berbentuk grid. Setiap stage menetapkan kondisi khusus, sehingga pertandingan terasa lebih sinematik sekaligus menuntut strategi yang matang.
Setelah menyelesaikan satu stage, pemain dapat langsung mengulanginya menggunakan tim buatan sendiri. Dari sini, game mendorong eksplorasi lebih lanjut melalui jalur baru dan hadiah tambahan.
Progresi Karakter: Spirit, Bond, dan Player Universe
Victory Road mengikat seluruh progresi lewat sistem Player Spirit. Pemain menggunakan Spirit ini untuk merekrut karakter favorit ke dalam bank pemain. Selanjutnya, Player Universe memperluas sistem tersebut dengan memungkinkan pertukaran Bond Stars untuk mendapatkan Spirit langka.
Menariknya, setiap mode permainan secara aktif menawarkan jenis hadiah yang berbeda. Dengan cara ini, game mendorong pemain untuk mencoba semua konten tanpa terasa memaksa.
Kizuma Station dan Mode Kompetitif
Bagi pemain yang menginginkan pengalaman lebih santai, Kizuma Station berperan sebagai pusat sosial dan kreatif. Di sini, pemain membangun Bond Town milik sendiri, mendekorasinya dengan berbagai bangunan dan karakter, serta menciptakan Avatar yang dapat digunakan di semua mode.
Sementara itu, pemain yang mencari tantangan dapat langsung terjun ke Competitive Mode. Sebagai alternatif, BB Station memungkinkan pemain menggunakan tim-tim kanon untuk bermain secara offline maupun online. Namun hingga saat ini, Victory Road belum menyediakan fitur couch versus atau co-op lokal.
Gameplay 11v11: Kekuatan Utama Victory Road
Terlepas dari berbagai kekurangannya, Victory Road menang telak pada satu aspek terpenting: gameplay inti di lapangan.
Melalui sistem Focus dan Zone, game secara aktif mensimulasikan duel 1v1 khas anime sepak bola. Pemain harus mengambil keputusan cepat, memilih teknik yang tepat, dan memanfaatkan momentum untuk menembus pertahanan lawan.
Selain itu, mekanik Castle memperkuat sisi defensif. Dengan menempatkan defender secara strategis, pemain dapat memotong serangan, melemahkan lawan, hingga meng-counter tembakan secara efektif.
Kustomisasi Tim: Dalam dan Fleksibel
Victory Road memberikan kebebasan luas dalam meracik tim. Melalui Abilearn Board, pemain secara langsung mengembangkan hampir semua karakter, menyesuaikan skill, stat, dan elemen sesuai peran di lapangan.
Lebih jauh lagi, sistem taktik memegang peran krusial. Efek taktik dapat mengubah alur pertandingan secara signifikan, sehingga persiapan menjadi sama pentingnya dengan eksekusi.
Grinding Murni Tanpa Transaksi Mikro
Victory Road membangun seluruh progresi di atas grinding. Pemain hanya bisa mendapatkan equipment, jurus, Spirit, dan bangunan Bond Town dengan terus bermain.
Sebagai catatan positif, Level-5 sepenuhnya menghilangkan microtransaction. Dengan demikian, setiap pencapaian benar-benar terasa sebagai hasil usaha, bukan jalan pintas berbayar.
Kesimpulan: Comeback yang Tidak Sempurna, tetapi Tetap Berarti
Inazuma Eleven: Victory Road memang belum sempurna. Story Mode terlalu padat konten filler dan gagal memaksimalkan karakter. Namun di saat yang sama, Chronicle Mode yang solid, gameplay 11v11 yang adiktif, serta sistem kustomisasi mendalam berhasil menutupi sebagian besar kekurangan tersebut.
Bagi penggemar lama, Victory Road berfungsi sebagai surat cinta penuh nostalgia. Sementara itu, bagi pendatang baru, game ini menjadi pintu masuk yang kuat ke dunia sepak bola anime yang penuh aksi dan jurus spektakuler.
Pada akhirnya, Victory Road menuntut kesabaran, terutama di Story Mode. Namun jika pemain bersedia bertahan dan menikmati prosesnya, pertandingan di lapangan akan membuktikan nilai sesungguhnya dari comeback ini.